Memperkosa dan Diperkosa, Salah Siapa?
Dewasa
ini, pelaku dan korban perkosaan tidak lagi memandang usia, hubungan kekerabatan,
maupun gender. Dihimpun dari CNN Indonesia, Komnas Perempuan Indonesia mencatat
bahwa terdapat sebanyak 8.797 kasus perkosaan terjadi dalam rentang tahun
2016-2018 dan mayoritas kasus ini dilakukan dalam ranah publik, kekerasan rumah
tangga, atau relasi personal seperti perkosaan dalam perkawinan. Data tersebut
merupakan data dari kasus perkosaan yang terjadi oleh perempuan yang ‘berani’ mengadu
dan itu belum termasuk jumlah korban
perempuan yang tidak mengaku dan korban dari kalangan pria.
Kenapa
masih ada yang tidak mengadu? Biasanya kebanyakan korban masih merasa lebih
baik menutup rapat-rapat apa yang terjadi daripada harus menanggung malu karena
telah menjadi korban perkosaan. Hal ini didukung oleh kecenderungan berpikir sebagian
masyarakat mengenai pengertian perkosaan yang belum sempurna, sehingga
mengakibatkan terjadinya penurunan empati terhadap korban-korban perkosaan,
baik korban bergender perempuan maupun laki-laki. Akibatnya, masyarakat kita
cenderung lebih menyalahkan korban dibanding pelaku. Hal ini juga dibarengi
dengan rendahnya etika yang dimiliki. Komentar dan tanggapan yang muncul saat
mendengar kata “perkosaan” biasanya tak jauh dari hal menyalahkan korban.
Korban perempuan dianggap sebagai orang yang lebih patut untuk disalahkan
karena mengenakan pakaian yang mampu mengundang syahwat pemerkosa, sedangkan
korban laki-laki dinilai lemah sebab tidak mampu melawan. Hal ini merupakan
pandangan yang salah.
Kita
perlu mulai mengubah mindset kita
bahwa perkosaan bukanlah salah korban, melainkan salah pelaku. Hal ini
dibuktikan saat adanya sebuah pameran yang memajang pakaian para korban
perkosaan di Belgia, rata-rata pakaian yang dipajang tidak bisa dibilang
pakaian seksi dan mengundang syahwat. Itu pakaian normal. Bahkan di daerah
Arab, yang rata-rata para peremppuannya menggunakan pakaian tertutup mengalami
kasus pelecehan dan pemerkosaan lebih besar daripada negara lain yang
berpakaian “terbuka”.
Memperkosa
sejatinya bukanlah hal yang berada di luar kuasa manusia. Memang benar jika
manusia memiliki libido dan gairah untuk berhubungan seks, tetapi manusia juga
disertai dengan akal pikiran yang mana mampu membuat manusia berpikir sebelum
bertindak. Manusia memiliki kuasa untuk menyeleksi apa yang ia pikirkan dan
menentukan apa yang akan ia lakukan. Oleh sebab itu, pendidikan moral sangat
berperan penting untuk membantu manusia menentukan dan menyeleksi pikiran dan
perbuatannya. Manusia harus paham bagaimana caranya memandang manusia sebagai
manusia, bagaimana menempatkan diri dalam posisi orang lain, juga bagaimana
memperlakukan orang lain seperti kita ingin orang lain memperlakukan kita.
Jika
orang tua zaman daulu hanya mengajarkan anak-anak perempuan mereka bagaimana
cara agar tidak diperkosa, maka orang tua sekarang perlu mengajarkan anak
laki-laki mereka bagaimana cara agar tidak memperkosa dan bagaimana seharusnya
pria dan wanita saling memperlakukan.
Komentar
Posting Komentar