Menyenangkan, tapi (Kok) Beracun?



            Mulut merupakan anggota tubuh yang sangat berperan penting dalam kehidupan sehari-hari kita. Sebagai anggota yang krusial harkatnya itu, kita selalu menggunakan bagian tubuh ini untuk melakukan banyak hal positif seperti berpidato, memuji, menyanjung,  dll. Namun selain itu, seringkali juga kita secara sadar mengetahui bahwa mulut yang kita miliki ini banyak pula bergerak untuk melakukan kegiatan-kegiatan negatif seperti mengumpat, mengejek, menghina, bahkan menggosipkan orang lain. Ironinya, kegiatan-kegiatan yang bernuansa negatif itu cenderung lebih banyak disukai oleh orang-orang dibandingkan dengan kegiatan positifnya. Sekarang kita mengaku saja, dalam sehari, kegiatan mulut mana yang lebih sering kita lakukan? Memuji orang lain atau mengumpati mereka? Aku sangat meyakini bahwa pilihan kedua lah yang sering kali kita lakukan. Kegiatan-kegiatan itu salah, tentu saja. Itu merupakan kumpulan hal buruk yang mampu merusak orang lain dan juga merusak diri kita sendiri. Mengapa? Karena sudah jelas, kegiatan-kegiatan itu beracun.
            Dalam konteks “kegiatan beracun” ini, hanya ada satu kegiatan buruk yang akan dibahas, yaitu kebiasaan buruk mulut manusia untuk membicarakan manusia lainnya. Kita biasa menyebutnya dengan bergosip. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) edisi ke-V, kata bergosip disamaartikan dengan kata bergunjing, yaitu berbicara (beromong-omong) tentang kejelekan atau kekurangan orang lain. Memang ada beberapa sumber yang dengan berani mengatakan bahwa bergosip memiliki beberapa dampak positif, yaitu semakin mengenal sosok seseorang, sebagai ajang berbagi informasi, dan dapat mempererat ikatan sosial.
Namun di balik itu, tahukah Anda? Hasil dari bergosip seringkali lebih banyak memberi dampak buruk kepada objek yang dibicarakan dibandingkan dengan dampak positif yang didapat oleh si penggosip.  Dampak buruknya bagaimana? Pertama, orang-orang tentu akan menjadi berspekulasi buruk mengenai si objek dan objek akan merasa dikucilkan oleh lingkungan di sekitarnya. Apakah itu termasuk dampak buruk? Mungkin beberapa dari kalian akan menganggap remeh hal itu dan berpikir seperti, “Alah digituin doang, baperan bet sih. Cuekin aja napa, tar juga diem sendiri.”
Well, mungkin saja bagi sebagian besar orang—terutama orang dengan tipe kepribadian introvert, telah terbiasa untuk bersikap cuek dan bodoamat mengenai pendapat orang lain mengenai diri mereka. Namun, hal yang dianggap sederhana ini akan menjadi pukulan  kencang dan menyakitkan bagi orang-orang ekstrovert yang sehari-harinya “hidup” dari pergaulan dengan lingkungan sekitar. Orang dengan tipe kepribadian ini, cenderung akan mulai berpikir bahwa sebenarnya apa yang salah dengan diri mereka sehingga lingkungan menjadi sinis dan tidak bersahabat. Jika tidak kunjung membaik, kegiatan berpikir belebihan ini akan berkembang menjadi stress yang akhirnya dapat menjadi pengalaman traumatis sehingga sulit baginya untuk melupakan perlakuan buruk orang-orang terhadapnya. Bahkan bisa saja, sosok yang semula bersahaja itu menjadi menutup diri dan menjadi seorang anti sosial yang tidak percaya lagi pada orang lain.
Wah, kok bisa? Sebuah cerita pernah Penulis dapatkan dari seorang Romo ketika Beliau tengah berhomili dalam Ekaristi Kaum Muda (EKM) di gereja St. Antonius Kotabaru, Yogyakarta. Ceritanya adalah mengenai dua orang ibu-ibu yang senang bergosip, kemudian salah satu di antara mereka bermimpi bahwa ia dihakimi oleh sebuah tangan raksasa akibat perbuatannya. Ibu itu kemudian mendatangi seorang romo (pastor) untuk melakukan pengakuan dosa. Ketika Romo itu telah mendengar apa dosa Si Ibu, Romo kemudian menyuruh dia untuk melakukan dua hal penting demi mendapatkan pengampunan, yaitu Si Ibu harus pulang ke rumah dan mengambil pisau, merobek sebuah bantal, dan membuang isinya hingga tak bersisa. Ibu itu menurut, ia pulang ke rumah dan melakukan apa yang telah Romo pinta dengan hati yang bahagia, sebab ia berpikir langkahnya untuk mendapat pengampunan ternyata sangat mudah. Keesokan harinya, Ibu itu kembali ke Pastoran tempat Romo tinggal dan di sana ia menyampaikan bahwa permintaan Romo telah selesai dilakukan. Romo kemudian berkata pada Si Ibu mengenai permintaan kedua, yaitu ibu itu harus mengumpulkan kembali isi bantal tersebut menjadi satu. Wajah Si Ibu menjadi pucat dan berkata bahwa ia tidak tau kemana saja isi bantal tersebut terbang tertiup angin, sehingga tidak mungkin bagi dia untuk mengumpulkan isi bantalnya kembali.
Dari cerita tersebut, yang dapat kita ambil adalah mengenai persebaran dari gosip itu sendiri. Sama seperti isi bantal, kita tidak tahu telah tersebar sampai mana saja cerita  yang kita bicarakan. Bergosip sendiri ternyata merupakan kegiatan penyebar berita bohong nomor satu di dunia. Mengapa demikian? Sebab hemat penulis, kegiatan bergosip itu memiliki skema seperti ini, melihat/mendengarkan-membicarakan dan menambah sedikit ‘penyedap’-menyebarkan. Jika hal yang dibicarakan merupakan sebuah fakta, maka tentu tidak akan menjadi masalah yang besar. Namun, berbeda halnya jika berita yang tersebar itu tidak benar adanya dan hanya didapat dari “katanya si anu.”  Maka, apakah sekarang bisa dibayangkan betapa tertekannya mental si objek gosip yang dirinya kita gunjingkan? Apalagi jika gunjingan itu tak berdasar dan merupakan cerita bohong?
Dampak buruk pun sebenarnya tidak hanya dirasakan oleh orang yang digunjingkan, sebab ternyata orang yang menggunjing pun mendapat cap jelek pula di dalam masyarakat. Kenapa? Karena kebiasaannya dalam bergosip inilah yang akan menjadikan si penggosip dicap sebagai orang yang tidak dapat dipercaya dan bermulut ember. Hal ini pada akhirnya akan mengakibatkan sedikitnya orang yang akan memercayai orang itu dan kebanyakan orang pun akan berpikir dua kali untuk berteman dengannya.
Lalu apa yang harus dilakukan? Cobalah untuk menghentikan kebiasaan berbicara mengenai keburukan orang lain dan lebih banyaklah mewawas diri. Berpikirlah dahulu mengenai apakah diri sendiri sudah lebih baik dari orang yang dibicarakan? Pakai waktu untuk kegiatan yang lebih positif seperti berolahraga, membaca buku, atau berdiskusi dengan orang lain.  Memang hal itu bukan merupakan hal yang mudah, tetapi kumpulkanlah niat dan selalu cobalah untuk menempatkan diri dalam posisi orang lain sebelum mengambil suatu tindakan.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Taiji Drive Hunt: Eksploitasi Lumba-lumba dalam Tradisi Manusia