The Wedding Dress
“Sudahlah,”
ucapnya sambil memegangi perut, “Masa pakai baju
pengantin doang jodoh langsung kabur? yang benar aja?”
“Ya,
namanya juga mitos,” jawabku tersenyum sebelum kemudian sekelebat memori masa lalu melintas
dalam kepalaku. Memori itu tentang sebuah peristiwa masa kecil yang membuat aku
menjauhi nenekku untuk beberapa hari.
Mitos
ini sering diajarkan oleh mendiang nenekku. Aku masih ingat betapa marahnya
beliau saat aku membongkar lemari pakaian ibuku dan menemukan baju
pengantinnya. Baju itu terlihat bagus meski berukuran sangat besar. Saat itu aku berpikir
bahwa mungkin badan ibuku cukup gemuk ketika dia menikah. Aku terkikik dan
memakai baju pengantin itu di depan cermin. Belum sempat aku tertawa kencang,
nenekku masuk ke kamar dan wajahnya berubah
menjadi sangat
pucat. Dia memarahiku habis-habisan hingga malam tiba. Aku yang saat itu masih berusia delapan tahun hanya
bisa menangis kencang dan pergi ke kamarku setelah sebelumnya
menendang baju itu jauh-jauh. Aku merasa tidak melakukan hal yang salah.
Usiaku
menginjak
angka tiga puluh satu dan masih lajang karena aku lebih memilih untuk menjadi wanita karir ketimbang menikah. Meski lajang,
aku tergolong cukup mapan dengan gaji besar dan sebuah apartemen di pusat
ibukota. Siapa yang butuh pernikahan jika hidup sendiri saja sudah bisa sukses? Bukan begitu?
Namun
ketika
aku tengah makan di sebuah restoran, gawai yang kuletakkan di meja berdering kencang. Aku bergegas meraih benda pipih
itu dan mendengar suara serak dari ayahku. Beliau berkata bahwa ibu sedang
sekarat dan ingin aku segera pulang ke kampung
halaman.
Pesawat
tengah malam segera kukejar. Dengan mata berkaca-kaca, aku harap aku dapat
mendengar pesan terakhir ibuku, sehingga aku tidak akan menyesal seumur hidup.
Aku menyesal tidak pulang ke rumah dalam waktu lama. Aku
menyesal tidak menanggapi permintaan ibu untuk segera menikah. Aku menyesal..
karena pernah mencoba baju pengantin ibu.
Perasaan yang salah langsung mengisi
relung batinku dengan penuh. Aku menggeleng. Ini tidak benar. Apa yang terjadi
bukanlah salah baju pengantin. Itu hanya mitos.
Perjalanan
dengan pesawat memakan waktu empat jam di udara. Setelah mendarat, aku langsung
memesan taksi dan bergegas menuju rumah orangtuaku. Di
teras, ayahku terduduk sembari menghisap rokok dan menatap kosong ke depan.
Aku menyapanya dan ia langsung memelukku sambil bercucuran air mata.
“Jangan
masuk lagi, ibumu sudah tiada,” ucapnya pelan.
Keesokan
harinya, ibuku disemayamkan di rumah. Pada hari yang sama juga jenazah beliau
dikremasi. Kami tak punya banyak kerabat, sehingga tidak ada gunanya melaksanakan
persemayaman terlalu lama.
Saat
sedang menyapu, aku menemukan sepucuk surat tergeletak di lantai. Kertasnya
lusuh seperti sudah diremas entah berapa kali. Aku membacanya dengan pelan.
Surat itu berisi tulisan tangan ibuku.
“Anakku
tersayang, aku tidak tahu sampai kapan lagi aku bisa bertahan hidup. Waktuku
sepertinya hendak tiba. Mitos itu tidak benar, Sayang. Mereka menciptakannya
untuk melindungi kita dari kebenaran. Baju pengantin ibu, pakailah. Hal itu
tidak akan menjauhkan jodohmu, melainkan membuatmu semakin dekat dengannya.
Pakailah, itu harapan ibu yang terakhir kalinya.”
Aku
mengangguk pelan seakan beliau ada di hadapanku saat itu. Segera aku menuju
lemari pakaian itu, lemari yang dulunya pernah membuatku dimarahi habis-habisan
oleh nenekku.
Baju itu, aku
menemukannya di sana. Baju pengantin
berwarna merah yang kini ada di genggamanku
ternyata tidak begitu besar seperti ukuran yang kuingat dulu. “Ternyata ibu tidak gemuk", gumamku sebelum tertawa kecil. Aku membayangkan betapa cantiknya ibu
saat itu, ketika menikah dengan ayah.
Kuperhatikan baju berlengan pendek itu dengan saksama, kelihatan sangat
cocok dengan tubuhku. Baju pengantin itu sangat elok rancangannya, terbuat dari
bahan sutra dan manik-manik indah melekat erat pada setiap jahitannya.
Aku
memakai baju pengantin itu dan mulai bergaya di depan cermin. Aku memang tak
memiliki rencana untuk menikah, tetapi aku seperti bisa merasakan hawa bahagia mereka, pasangan-pasangan
muda yang hendak menikah.
Tiba-tiba
terdengar langkah kaki yang tergesa-gesa menuju ke arahku. Di pintu, ayahku menyaksikan apa yang sedang kulakukan di
kamarnya. Wajahnya yang berumur berubah pucat dan
tatapan matanya seperti tatapan mata nenekku saat aku masih kecil. Namun ia
tidak marah, ia menangis.
“Jangan
ambil anakku, aku mohon! Ia satu-satunya orang yang kumiliki saat ini,” ucapnya
sendu.
Aku
tidak tahu kepada siapa ia memohon, tetapi aku merasakan banyak tangan menyentuh
pundakku dan menarikku ke dalam kegelapan.
Kini
aku tahu kenapa aku tidak menemukan jodohku hingga hari ini. Jodohku bukan
berasal dari dunia ini. Ia sudah meninggal dunia sejak lama. Aku pun juga tahu di
mana letak salahku sekarang.
Mitos
itu diciptakan untuk melindungi kita dari kebenaran. Memakai baju pengantin
sebelum ditetapkan tanggal pernikahan memang membuat jodohmu semakin dekat.
Iya, bagi orang-orang yang beruntung, mereka akan menemukan jodohnya lebih
cepat. Bagaimana dengan mereka yang memiliki jodoh yang sudah pulang ke alam
baka? Mitos itu diciptakan agar makhluk-makhluk ini tidak menyeretmu menuju
neraka untuk selamanya.
Collab with @undercover.ghost
Komentar
Posting Komentar