The Wedding Dress


 Aku memandang perempuan berambut sebahu yang kini duduk di hadapanku sembari menyeruput kopi. Kami sedang berada di Cafe dan berbicara mengenai mitos-mitos pernikahan di laman Facebook. Di sini disebutkan bahwa dalam kepercayaan tradisional orang Tionghoa, memakai baju pengantin sebelum ditetapkannya tanggal pernikahan bisa membuat jodoh sulit untuk datang. Josea, perempuan yang duduk di hadapanku itu tertawa terbahak-bahak saat aku membicarakan mitos tersebut.
“Sudahlah,” ucapnya sambil memegangi perut, “Masa pakai baju pengantin doang jodoh langsung kabur? yang benar aja?”

“Ya, namanya juga mitos,” jawabku tersenyum sebelum kemudian sekelebat memori masa lalu melintas dalam kepalaku. Memori itu tentang sebuah peristiwa masa kecil yang membuat aku menjauhi nenekku untuk beberapa hari.

Mitos ini sering diajarkan oleh mendiang nenekku. Aku masih ingat betapa marahnya beliau saat aku membongkar lemari pakaian ibuku dan menemukan baju pengantinnya. Baju itu terlihat bagus meski berukuran sangat besar. Saat itu aku berpikir bahwa mungkin badan ibuku cukup gemuk ketika dia menikah. Aku terkikik dan memakai baju pengantin itu di depan cermin. Belum sempat aku tertawa kencang, nenekku masuk ke kamar dan wajahnya berubah menjadi sangat pucat. Dia memarahiku habis-habisan hingga malam tiba. Aku yang saat itu masih berusia delapan tahun hanya bisa menangis kencang dan pergi ke kamarku setelah sebelumnya menendang baju itu jauh-jauh. Aku merasa tidak melakukan hal yang salah.

Usiaku menginjak angka tiga puluh satu  dan masih lajang karena aku lebih memilih untuk menjadi wanita karir ketimbang menikah. Meski lajang, aku tergolong cukup mapan dengan gaji besar dan sebuah apartemen di pusat ibukota. Siapa yang butuh pernikahan jika hidup sendiri saja sudah bisa sukses? Bukan begitu?

Namun ketika aku tengah makan di sebuah restoran, gawai yang kuletakkan di meja berdering kencang. Aku bergegas meraih benda pipih itu dan mendengar suara serak dari ayahku. Beliau berkata bahwa ibu sedang sekarat dan ingin aku segera pulang ke kampung halaman.
Pesawat tengah malam segera kukejar. Dengan mata berkaca-kaca, aku harap aku dapat mendengar pesan terakhir ibuku, sehingga aku tidak akan menyesal seumur hidup.

Aku menyesal tidak pulang ke rumah dalam waktu lama. Aku menyesal tidak menanggapi permintaan ibu untuk segera menikah. Aku menyesal.. karena pernah mencoba baju pengantin ibu. 
Perasaan yang salah langsung mengisi relung batinku dengan penuh. Aku menggeleng. Ini tidak benar. Apa yang terjadi bukanlah salah baju pengantin. Itu hanya mitos.

Perjalanan dengan pesawat memakan waktu empat jam di udara. Setelah mendarat, aku langsung memesan taksi dan bergegas menuju rumah orangtuaku. Di teras, ayahku terduduk sembari menghisap rokok dan menatap kosong ke depan. Aku menyapanya dan ia langsung memelukku sambil bercucuran air mata.
“Jangan masuk lagi, ibumu sudah tiada,” ucapnya pelan.

Keesokan harinya, ibuku disemayamkan di rumah. Pada hari yang sama juga jenazah beliau dikremasi. Kami tak punya banyak kerabat, sehingga tidak ada gunanya melaksanakan persemayaman terlalu lama.
Saat sedang menyapu, aku menemukan sepucuk surat tergeletak di lantai. Kertasnya lusuh seperti sudah diremas entah berapa kali. Aku membacanya dengan pelan. Surat itu berisi tulisan tangan ibuku.

“Anakku tersayang, aku tidak tahu sampai kapan lagi aku bisa bertahan hidup. Waktuku sepertinya hendak tiba. Mitos itu tidak benar, Sayang. Mereka menciptakannya untuk melindungi kita dari kebenaran. Baju pengantin ibu, pakailah. Hal itu tidak akan menjauhkan jodohmu, melainkan membuatmu semakin dekat dengannya. Pakailah, itu harapan ibu yang terakhir kalinya.”

Aku mengangguk pelan seakan beliau ada di hadapanku saat itu. Segera aku menuju lemari pakaian itu, lemari yang dulunya pernah membuatku dimarahi habis-habisan oleh nenekku.
Baju itu, aku menemukannya di sana. Baju pengantin berwarna merah yang kini ada di genggamanku ternyata tidak begitu besar seperti ukuran yang kuingat dulu. Ternyata ibu tidak gemuk", gumamku sebelum tertawa kecil. Aku membayangkan betapa cantiknya ibu saat itu, ketika menikah dengan ayah.

Kuperhatikan baju berlengan pendek itu dengan saksama, kelihatan sangat cocok dengan tubuhku. Baju pengantin itu sangat elok rancangannya, terbuat dari bahan sutra dan manik-manik indah melekat erat pada setiap jahitannya.
Aku memakai baju pengantin itu dan mulai bergaya di depan cermin. Aku memang tak memiliki rencana untuk menikah, tetapi aku seperti bisa merasakan hawa bahagia mereka,  pasangan-pasangan muda yang hendak menikah.
Tiba-tiba terdengar langkah kaki yang tergesa-gesa menuju ke arahku. Di pintu, ayahku menyaksikan apa yang sedang kulakukan di kamarnya. Wajahnya yang berumur berubah pucat dan tatapan matanya seperti tatapan mata nenekku saat aku masih kecil. Namun ia tidak marah, ia menangis.

“Jangan ambil anakku, aku mohon! Ia satu-satunya orang yang kumiliki saat ini,” ucapnya sendu.

Aku tidak tahu kepada siapa ia memohon, tetapi aku merasakan banyak tangan menyentuh pundakku dan menarikku ke dalam kegelapan.

Kini aku tahu kenapa aku tidak menemukan jodohku hingga hari ini. Jodohku bukan berasal dari dunia ini. Ia sudah meninggal dunia sejak lama. Aku pun juga tahu di mana letak salahku sekarang.



Mitos itu diciptakan untuk melindungi kita dari kebenaran. Memakai baju pengantin sebelum ditetapkan tanggal pernikahan memang membuat jodohmu semakin dekat. Iya, bagi orang-orang yang beruntung, mereka akan menemukan jodohnya lebih cepat. Bagaimana dengan mereka yang memiliki jodoh yang sudah pulang ke alam baka? Mitos itu diciptakan agar makhluk-makhluk ini tidak menyeretmu menuju neraka untuk selamanya.




Collab with @undercover.ghost

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Taiji Drive Hunt: Eksploitasi Lumba-lumba dalam Tradisi Manusia