Balela

Sebuah kebenaran dapat muncul dari balik kamar mandi. Begitu isi sebuah buku yang pernah kubaca. Kali ini kebenaran benar-benar muncul, ia datang bersama sebungkus alat yang kubeli dari apotek.
Aku menatap cermin besar yang menggantung dalam kamar mandi. Dari situ, suara mangkuk pecah bersama teriakan dan bantingan pintu menusuk-nusuk gendang telinga. Dari balik bisingnya perang, suara ketukan samar terdengar dari balik pintu. Kusimpan alat tadi dalam saku dan membuka pintu kamar mandi. Adikku berdiri di sana dengan wajah pias.

“Aku tak bisa tidur,” bisiknya.

Kugendong tubuh kecil yang gemetar itu dan berjalan melewati dapur yang menjadi medan peperangan. Ayah berdiri membelakangi wastafel, sedang ibu terduduk di dekat pencucian. Dapur benar-benar telah menjadi medan perang dengan banyaknya korban keramik dan benda-benda plastik yang bertebaran. Kututup wajah Chasey dengan menekan kepalanya pada pundakku dan pergi dari sana. Kuselimuti gadis kecil itu dan memeluknya dalam selimut, berharap pagi segera datang atau Azrael—agar segera membawa kami pergi dari sini.

Aku kadang tak mengerti dengan apa yang telah Tuhan rencanakan dalam hidupku. Aku telah rajin membaca firman-Nya, pun dengan berdoa tak henti—berharap semua hanya mimpi dan meminta agar aku cepat mati. Tapi, Ia senang memberiku ujian tanpa aku tau bagaimana caranya untuk lulus.

Alat dengan dua setrip merah itu aku beri pada Evan, laki-laki yang menemaniku dua bulan belakangan. Bagai melihat Anubis, ia mundur dua langkah dan menatapku dengan ngeri.

“Ini gila!” Evan menggigil. Seharusnya aku tak memberikan hasil ini padanya dan pergi untuk menyelesaikannya sendiri—seperti pengalaman setengah tahun yang lalu dengan pria yang berbeda. “Aku baru melakukannya sekali dan langsung jadi?” suara pria itu bergetar. “Ini tidak adil! Aku bahkan bukan orang pertama yang menidurimu.” Katanya.

Aku tersenyum, “Ya. Memang bukan, tapi ini anakmu. Sapalah dan ayo menikah”.

Aku yakin guntur memecah isi kepala pria bertubuh tinggi itu, sebab wajahnya yang merah menjadi sepucat salju di musim dingin. Namun, aku tidak peduli. Statusku masih siswa dan aku tidak mau kabur dari rumah tanpa ada seseorang pun yang mampu menanggung biaya hidupku. Minimal aku dan Chasey tidak terlunta di jalanan.

Aku pikir rencana ini akan berjalan mulus, semulus rencanaku mengajaknya tidur malam itu. Namun, ia malah berteriak dan menyuruh aku untuk menggugurkan si embrio. Ternyata aku salah memilih target—tidak, targetku sudah benar. Evan adalah orang yang tepat.

Mengetikkan sesuatu di ponsel, aku berbalik arah tanpa berbicara satu kata pun pada Evan. Di balik punggungku, pria pengecut itu membuka ponselnya yang bergetar dan tersenyum lebar. Aku yakin musim panas telah memecahkan kekhawatirannya dan mengembalikan rona kembali pada tempatnya. Aku mengucapkan selamat tinggal setelah notif berisi pemberitahuan tentang sejumlah uang muncul di layar ponsel.

Kurtaj”.
***
Aku pikir Apep akan menjauhiku setelah kukorbankan mahkotaku pada Evan. Namun ternyata aku salah. Kegelapan itu malah menjadi semakin tebal dan armadanya telah melingkupiku dengan badai—mungkin sampai aku mati. Badai datang ketika rumahku semakin menjadi neraka dan kuciptakan neraka baru dalam diriku. Umurku 18, putus sekolah, dan hamil. Aku tak peduli akan hidupku atau ke mana Azrael akan membawaku setelah aku mati, yang jelas bukan surga. Karena Surga bukanlah tempat bagi manusia busuk sepertiku.

Di dalam kamar aku terduduk di atas ranjang dan memandang salib corpus yang menggantung pada dinding. Mengambil butiran rosario, aku mendaraskan Salam Maria untuk terakhir kali—setidaknya menyucikan diri sebelum pergi memulai apa yang perlu dimulai. Menutup tanda iman di dada, kugenggam erat rosario itu sebelum meletakkannya di atas meja.

Sudah waktunya.

Aku tak pernah suka dengan keinginan Evan, maka tak akan kulakukan.
Kurtaj? Aborsi tidak akan ada dalam kamusku. Aku tak ingin jadi pengecut yang mengirim anakku untuk mati sedangkan orang tuanya hidup dalam ketenangan. Kami harus mati bersama, setidaknya ada keuntungan yang kudapat. Setidaknya untuk Chasey—yang hidupnya lebih dapat diselamatkan.
Janjiku pada Evan hari ini adalah untuk menunjukkan padanya hasil aborsi, begitu yang kuketik padanya tempo hari. Kami janji bertemu di taman pinggiran kota, pukul dua siang.

Sekarang pukul satu, berarti dua jam berlalu sejak rencana mulai dijalankan dan tiga puluh menit sejak aku sampai di tempat ini. Beberapa notifikasi masuk secara bersamaan. Satu dari aplikasi perpesanan dan enam sisanya dari aplikasi e-banking. Operasi utama selesai dilaksanakan dan sekarang tinggal bagian penutup yang harus kulakukan sendiri.
Evan mengirim pesan singkat yang menyatakan bahwa dia telah sampai. Berdiri dari bangku, aku memandang sekeliling taman yang sepi dan melihat Evan datang berstelan kemeja biru.

“Bagaimana hasilnya?” Laki-laki bajingan itu bertanya tanpa basa-basi. Wajahnya seperti yang aku duga, telah kembali bersemi. Sesungguhnya itu merupakan sebuah kesia-siaan. Musim dingin akan kubuat kembali bersarang di tubuhnya, secara permanen.

“Dia masih hidup.”

Kulihat bola mata Evan membulat sebelum dia menamparku dengan keras. “Kau jalang sialan!” serunya. Tangan laki-laki itu gemetar hebat, begitu juga dengan suaranya. “Kau bilang akan membunuhnya!”

“Aku memang berkata demikian,” kataku.

Senyum iblis menampakkan diri sebelum aku membuka tas dan mengambil sesuatu yang membuat wajah Evan mulai tersentuh peri es. “tapi bukan dia saja yang harus mati”.

Jleb
.
Otot wajah Evan tertarik ke belakang bersama dengan matanya yang membola keluar. Pisau yang kubawa kudorong lebih dalam pada jantungnya. Ia meringis sebelum ambruk ke tanah. Aku memandang Evan yang kini dihampiri musim dingin dari ujung kaki.

Di belakangku Azrael berdiri dengan angkuh. Ia memandangiku bersama dengan jiwa Evan, menunggu dua nyawa lagi untuk dibawa pergi.

Aku membuka ponsel dan memastikan sesuatu, dua notifikasi muncul di layar. Chasey sudah sampai di panti asuhan dan organ milik bajingan-bajingan yang kujual pada mafia sudah terjual di black market.
Pesan kuhapus setelah selesai kubaca.
Senyum lega kutunjukkan karena mengingat akan Chasey.
Dengan mantap kudekatkan bilah besi kedua pada jantungku, kemudian sosok malaikat itu menyambutku dengan pedangnya.

“Mari pergi”.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Taiji Drive Hunt: Eksploitasi Lumba-lumba dalam Tradisi Manusia