Idrus - Ave Maria




Malam itu sebuah keluarga tengah duduk di beranda rumah, mengenang seorang laki-laki aneh bernama Zulbahri. Hari ketika Zulbahri datang, sekeluarga tengah duduk-duduk bersama sebelum terlihat seorang lelaki yang berjalan sembari membaca buku. Pakaiannya tak karu-karuan. Baju jasnya sobek dan hanya tertinggal benang-benang di belakangnya. Karena adik Usup yang kencang menertawainya, lelaki itu ikut tertawa dan masuk ke dalam pekarangan. Lelaki itu memberi hormat kemudian duduk di kursi. Ayah menanyainya, tetapi ia hanya diam. Ia melihat majalah-majalah yang disimpan di meja bundar itu sebelum membawa satu dari antaranya pergi. Lelaki itu meninggalkan buku yang ia baca sebelumnya, sebuah buku filsafat.

Keesokan hari dia datang kembali dan mengambil majalah lain, majalah lama diletakkan di atas meja. Setiap hari dia datang dan semakin ada perubahan positif yang terlihat. Ia semakin rapi dan berbicara sedikit-sedikit. Ternyata dia adalah seorang pengarang. Meski sudah banyak bukunya yang diterbitkan, belum pula ia dikenal secara umum.

Suatu hari ibu menanyakan dia. Dia datang seperti biasa dengan tertawa dan memberi kesan aneh bagi orang yang pertama kali kenal dia, tetapi kami sudah biasa. Zulbahri menarik napas panjang. Saat ibu menanyakan dia, Zulbahri berbicara terus menerus. Seakan ceritanya menjawab pertanyaan ibu.

Zulbahri telah menikah dengan Wartini selama delapan bulan. Meski belum ada tanda-tanda akan mempunyai anak, dia bahagia. Namun, meski begitu Zulbahri terus merasa bahwa kebahagiaan itu akan bertukar dengan sengsara. Pasti akan datang masanya. Namun, Zulbahri tak tahu kapan sengsara itu datang, maka ia meyakinkan diri bahwa perkawinannya yang bahagia tak akan lekas meninggalkannya. Hampir berhasil, tetapi sengsara datang bersama dengan surat dari Syamsu, adiknya. Surat itu dia bawa ke mana-mana, pikirannya kacau dan membuat pekerjaannya terbengkalai.

Setelah dua hari membawa surat itu ke mana-mana, pada malam ketiga Zulbahri berniat membicarakan isi surat itu dengan Wartini. Maka terjadilah itu, cerita tentang isi surat, tentang maksud Syamsu yang hendak pindah dari Shananto ke Jakarta dan tinggal bersama mereka, serta bahaya yang akan datang jika itu terjadi. Wartini menganggap bahwa Zulbahri berlebihan dalam menanggapi Syamsu. Wartini berkata bahwa cintanya pada Syamsu dahulu tak lebih dari cinta monyet. Meski Wartini berkata demikian, Zulbahri tetap merasa bahwa ia adalah seorang perampok yang merebut Wartini dari Syamsu.

Beberapa hari setelahnya Syamsu datang dari Shananto. Tak ada yang terjadi di antara Syamsu dan Wartini, keduanya saling menghormati. Pun ketika Zulbahri menguping pembicaraan mereka, Syamsu tetap menjaga kesopanan. Mereka, Syamsu dan Wartini, sering bermain musik bersama. Syamsu bermain biola sedangkan Wartini bermain Piano, mereka bermain Ave Maria karangan Gounoud, sedangkan Zulbahri yang sedang sakit kepala tidur saja di kamar. Mereka bermain dengan menyayat hati. Sesudah lagu itu habis, Wartini menangis dan mempertanyakan tentang perasaannya yang mencintai dua orang lelaki. Setelah itu Zulbahri keluar dari kamar dan mengatakan pada Syamsu bahwa benarlah adanya bahwa Wartini merupakan hak lelaki itu.

Setelah itu Zulbahri meninggalkan Jakarta dan tiba di kota Malang. Ia masuk ke rumah sakit selama tiga bulan dan dokter menyarankannya untuk menjauhi pulau Jawa, terlebih kota Jakarta. Namun, seminggu kemudian dia sudah kembali berada di kota itu dengan niat meminta Wartini kembali pada Syamsu. Zulbahri menangis sembari bercerita, kami sekeluarga terdiam mendengarkan. Sesampainya ia di Jakarta, ia terus menuju ke rumah Syamsu dan Wartini. Dari jauh, lagu Ave Maria mengalun dari suara biola dan piano, dari jendela kaca terlihat Wartini yang nampak lebih gemuk. Ia tengah hamil.

Cerita Zulbahri menjeda dan matanya yang tergenang menatap ke arah langit berbintang. Zulbahri yang melihat momen itu lari meninggalkan rumah Syamsu dan Wartini menuju hotel. Di sana, dia menangis. Karena tak banyak uang yang ia punya, ia tak bisa menginap lama-lama. Ia harus meninggalkan hotel dan kemudian tinggal di sebelah rumah di sebelah gang kecil. Di sana, ia menjadi tak peduli dengan dirinya dan mencari-cari tempat jiwanya bergantung. Begitulah keadaan Zulbahri sebelum dia bertemu dengan keluarga itu. Cerita pendek yang ada di majalah-majalah yang ia pinjam sangat besar pengaruhnya pada jiwa Zulbahri.

Setelah bercerita demikian, Zulbahri berdiri dan memberikan sehelai kertas pada ayah, kemudian pergi. Ayah membuka  kertas itu dan dibaca pelan-pelan. Zulbahri telah masuk barisan Jibaku. Bukan karena perselingkuhan itu, tetapi karena ia bermaksud membayar hutangnya pada tanah air yang telah lama ia lupakan karena mengingat diri sendiri. Pada malam itu Zulbahri berpisah dengan keluarga itu untuk selama-lamanya.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Taiji Drive Hunt: Eksploitasi Lumba-lumba dalam Tradisi Manusia