Anger
Jam
pada dasbor mobil menunjukkan pukul 22.15 WIB saat aku terbangun dengan jaket
yang masih melingkar di leher. Pemandangan pertama yang dilihat oleh netraku
adalah jalanan beraspal hitam yang tengah dilahap oleh sedan putih di depan.
Mobil Sedan itu berbelok-belok dengan lincah, berusaha menghindari
lubang-lubang kecil yang mampu menimbulkan perasaan tidak nyaman kepada para
penumpangnya. Mobil boks yang kunaiki bersama Pak Kasim dan Sudarsono pun
berjalan demikian, mengikuti jejak sedan yang kini melaju kencang dari hadapan.
Kuminta Pak Kasim mematikan AC mobil yang terasa dingin. Pak Kasim menuruti apa
yang kuminta tanpa banyak bicara. Setelah AC dirasa mati, aku menurunkan kaca
mobil hingga hampir setengahnya dan menyulut rokok yang kuambil dari atas dasbor.
Manis nikotin terasa di hampir
seluruh indra pengecapanku, membuat diri ini merasa candu akan kenikmatannya.
Pak Kasim melirikku sebelum ikut membuka kaca jendela yang berada di samping
kemudi, seketika asap rokok yang sempat membaui mobil melesak pergi entah
kemana. Pak Kasim terlihat sibuk menyetir meski matanya beberapa kali
melirikku, membuatku merasa tidak nyaman. Sudarsono yang sedang tidur menyeder padaku kudorong pelan sebelum
akhirnya ia membenahi posisi untuk menghadap kearah jendela, membelakangi Pak
Kasim.
“Sudah
berapa lama merokok, Rob?” bertanya, Pak Kasim tak lagi melirik padaku. Ia
mulai fokus melihat kearah jalanan yang berkelok-kelok. Ujung kaus putih yang
dia pakai tampak menyembul dari balik jaket yang menutup rapat bagian tubuh
atasnya, membuat lelaki berkepala empat itu tampak berbeda dari biasa. Aku
memalingkan muka darinya dan mengambil gawai yang berada di saku, benda pipih
itu bergetar pertanda terdapat pesan yang baru saja masuk.
“Hampir
lima tahun,” aku menjawab pertanyaannya sembari memainkan gawai, membalas
beberapa pesan masuk dari aplikasi perpesanan.
“Kamu
masih muda, kalau bisa berhentilah merokok. Rokok itu hanya memberi kesenangan
sementara, banyak ruginya.” Pak Kasim menceramahiku tanpa melihat realita yang
terjadi dalam hidupnya. Ia sendiri mengatakan padaku bahwa ia telah merokok
sejak lulus dari bangku Sekolah Dasar. Jauh lebih parah dariku yang baru
mengenal rokok saat duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama.
“Belum
lama ini saya berusaha untuk mengurangi Rokok tapi sudah terlambat, kata dokter
paru-paru saya sudah menghitam. Rokok juga buat kita boros, Bi. Masa saya
menghabiskan lima puluh
ribu dalam sehari cuma buat rokok,”
Aku
diam tanpa berniat mendengarkan ocehan lelaki tua itu lebih jauh. Netra kupilih
untuk digulirkan pada pemandangan khas malam hari yang jauh lebih menggoda
dibanding perkataan Pak Kasim yang jelas-jelas mengharapkan aku untuk berhenti
merokok. Berselang satu jam, Pak Kasim terus berbicara dan itu membuatku kesal.
“Sudahlah,
Pak. Bapak itu nggak usah menceramahi saya untuk berhenti merokok. Kalau bapak
keberatan rokoknya saya minta, ya bapak bantu bilang ke bos. Naikin gaji saya,
biar saya bisa beli rokok sendiri!” aku membentak Pak Kasim saat perkataannya
telah jauh mengungkit-ngungkit berapa banyak batang rokok yang kuhabiskan dalam
sehari, ia jelas menyindirku yang seringkali meminta rokok padanya.
“Bapak
bukan mempermasalahkan seberapa banyak rokok yang kamu minta dari bapak, Robi.
Bapak cuma mau kamu nantinya nggak seperti bapak.” Pak Kasim membantah
pernyataan yang kuberi padanya. Wajah itu tampak santai meski ia tau telah
menyikut emosiku.
Aku
memberang, ia masih saja mengelak dan membantah. Memang yang kutahu Pak Kasim
itu seperti itu, selalu berbicara dengan berbelit-belit. Padahal memang itu
inti pembicaraan yang ingin ia sampaikan.
“Sudahlah
tidak usah dibahas. Mau berapa
pun
rokok yang saya habiskan itu bukan urusan bapak. Soal rokok yang saya minta,
nanti akan saya ganti. Tidak usah bapak menyindir saya seperti ini!.” Suaraku tinggi membentak Pak Kasim. Emosi yang
timbul segera kuluapkan tanpa pandang kondisi, bapak-bapak ini memang
sekali-sekali harus diberi peringatan untuk tidak terlalu dalam mengurusi orang
lain.
Pak
Kasim menoleh kearahku untuk beberapa detik sebelum akhirnya kembali membuang
muka untuk menghadap kedepan. Wajahnya terlihat memerah, aku tahu ia tersinggung
atas perkataanku barusan. Tetapi aku tak peduli, biar ia tahu batas dalam
berbicara. Terlebih padaku yang memang tak senang kebiasaanku diusik oleh orang
lain.
“Kalau
bapak nggak senang saya minta rokoknya. Saya bisa beli sendiri.” Sambungku
masih dengan amarah dalam kepala. Pak Kasim tak menjawab juga tak menoleh. Aku
membuang muka ke arah
samping, menghadap jalan dengan angin malam yang mengelusi mukaku. Dingin,
berbanding terbalik dengan kondisi emosiku yang panas.
~0~
Malam
semakin beranjak menuju dini hari saat mobil memasuki daerah Semarang. Sekitar
empat jam berkendara melewati
jalan-jalan sepi dan toko-toko yang tutup, mobil boks yang kami kendarai sampai
pada jalan Rejosari Raya, Semarang. Aku yang sedari tadi tak berbicara pada Pak
Kasim segera bergegas untuk menurunkan barang tanpa banyak bicara. Pak Kasim
pun melakukan hal yang sama. Sudarsono yang baru bangun menatap bingung kearah
kami berdua dan tak mengambil pusing mengenai apa yang terjadi. Setelah
tugasnya selesai, ia duduk mengobrol dengan seorang
bapak yang telah menyediakan 4 buah gelas kaca juga
sebotol Ciu. Aku menutup pintu belakang mobil boks sebelum akhirnya bergabung
dengan Sudarsono yang tengah asyik berbicara dengan Pamanku dan Pak Kasim. Mendudukan
diri, kusambar gelas yag disediakan,
lalu
ikut menuang Ciu.
Beberapa
kali terlibat pembicaraan santai, bapak
itu pamit undur diri beserta Sudarsono yang mengekor di belakangnya. Aku
mengangguk dan menandaskan ciu yang tinggal separuh. Kulihat Pak Kasim berjalan menjauhiku menuju
ke arah mobil boks yang terparkir. Aku ikut berjalan dengan agak sempoyongan,
berniat mengikutinya untuk mengambil gawai yang tertinggal. Selama berjalan
kearah mobil boks, aku merasakan rasa pahit yang terasa karena dalam waktu lama
tidak merokok. Aku melongokkan kepala kekanan dan kiri jalan, tak ada satu
warung pun yang buka. Aku mendekat kearah Pak Kasim dan berniat untuk meminta
rokok, sebab hanya dia yang memiliki rokok saat ini.
“Pak,
saya minta rokok dua batang. Besok saya
ganti.” Aku membuka pintu mobil dan mengambil gawai. Pak kasim tak menjawab, ia
mengambil barang yang sekiranya diperlukan lalu pergi berjalan entah kemana.
Aku menyusulnya dan menepuk pundak lelaki itu, berharap diberi meski hanya
sebatang.
“Pak.
Sekali ini saja. Besok saya ganti.”
Pak
kasim mendengus kesal lalu berbalik menghadapku. “Siapa yang tadi marah-marah
pada saya? Mau rokok? Beli saja sendiri. Punya uang kan?” Pak Kasim menghentak
tanganku yang berada dipundaknya lalu berjalan pergi menuju bangku panjang
untuk tidur.
Wajahku
memerah padam. Perkataan Pak Kasim seakan menyulut sebuah dinamit dengan api
dan kini dinamit itu berhasil meledak dengan hebatnya. Aku berjalan dengan
langkah lebar menuju sebuah warung pecel yang berada di dekat bangku panjang di
mana Pak Kasim menelentangkan tubuh sambil menutup mata. Tak lama
mengobrak-abrik warung, aku menemukan sebuah pisau berkarat di dalam tempat
sampah. Berjalan menghampiri Pak Kasim,
kugenggam pisau dengan erat sebelum akhirnya menusuk Pak Kasim tepat pada dada
kirinya. Pak Kasim terkaget dan setengah menghentak. Matanya menatapku dengan
raut tak percaya. Aku menyeringai dan mencabut pisau yang kukira tertancap di
jantungnya. Namun aku salah, Pak Kasim masih bisa menggeliat dengan raut wajah
kesakitan. Sepertinya tusukan pisauku belum menancap dengan benar, itu terbukti
dari kelakuan Pak Kasim yang masih menggeliat bak cacing kepanasan dengan darah
memenuhi jaket abu-abu yang ia pakai. Aku menusuk lagi dada kirinya hingga Pak
Kasim berhenti menghentak. Ah, saat ini pas mengenai jantung. Aku tersenyum
senang karena pada akhirnya lelaki tua itu mati.
Aku
merasakan amarahku masih tersisa cukup banyak, melihat Pak Kasim yang telah
merenggang nyawa kutusuk lagi pisau itu ke punggungnya. Pak Kasim tak lagi
menghentak karena memang ujung saraf tanpa selaput miliknya tak lagi bekerja.
Kali ini amarahku reda dengan sempurna. Aku mencabut pisau yang masih menancap,
gagang kayunya masih kupegang namun mata pisaunya jatuh ke tanah. Aku melihat besi
putih yang tergeletak itu telah berubah warna menjadi merah sebelum akhirnya
membuang barang bukti ke semak-semak.
Menyusuri
mayat Pak Kasim, aku menemukan dompet dan gawainya yang tersimpan rapi. Kubuka
dompet yang berisi uang dengan jumlah lumayan itu sebelum memasukkannya kedalam
saku celana. Aku berjalan kearah tong sampah yang berada di depan warung
sembako dengan perasaan was-was. Melepas Jaket yang terciprat darah Pak Kasim, jaket
itu kubuang kedalam tong.
Waktu
menunjukkan pukul 04.00 WIB. Jalanan masih gelap namun berubah menjadi agak
ramai. Aku cepat-cepat berjalan kearah mobil boks dan membawa mobil itu menuju
kearah terminal setelah sebelumnya mampir untuk mandi dan sarapan di Pom Bensin
yang berada di tengah kota. Sesampainya
di terminal, aku segera masuk ke barisan penumpang untuk ikut mengantri tiket bis yang akan
mengantarku ke Cirebon. Jauh dari hiruk pikuk Semarang, tempat dosa besar telah
kulakukan.
Terminal
tampak ramai meski hari baru saja memasuki subuh. Beberapa orang yang membawa
barang tampak berjalan kearah Mushola yang disediakan pihak terminal, bersiap
untuk shalat shubuh. Seorang ibu-ibu menepuk pundakku dan mengajakku untuk
shalat terlebih dahulu, aku tersenyum dan mengatakan nanti saja. Dalam hati aku
terkekeh pelan, seorang pembunuh sepertiku di ajaknya Shalat? Apa ibu itu
bercanda?. Belum lama tenggelam dalam lamunan dan menertawakan diri sendiri,
aku merasakan tanganku dipelintir kebelakang oleh seseorang. Aku meronta dan
melihat siapa yang berani menyerangku dengan tiba-tiba seperti ini. Seorang lelaki
dewasa berjaket hitam tampak dengan wajah serius memborgol ku dengan borgol
besi berwarna putih.
“Maaf,
saudara saya tangkap atas kasus pembunuhan beberapa saat lalu. Mari ikut saya,”
Beberapa
orang yang mendengar perkataan polisi itu memundurkan tubuh mereka dengan
kaget, termasuk ibu-ibu bergamis krem yang tadi mengajakku shalat. Ia
memandangku dengan mata terbelalak tak percaya. Aku juga memandangnya, namun
kali ini dengan wajah sendu.
Komentar
Posting Komentar