Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2020

Idrus - Ave Maria

Malam itu sebuah keluarga tengah duduk di beranda rumah, mengenang seorang laki-laki aneh bernama Zulbahri. Hari ketika Zulbahri datang, sekeluarga tengah duduk-duduk bersama sebelum terlihat seorang lelaki yang berjalan sembari membaca buku. Pakaiannya tak karu-karuan. Baju jasnya sobek dan hanya tertinggal benang-benang di belakangnya. Karena adik Usup yang kencang menertawainya, lelaki itu ikut tertawa dan masuk ke dalam pekarangan. Lelaki itu memberi hormat kemudian duduk di kursi. Ayah menanyainya, tetapi ia hanya diam. Ia melihat majalah-majalah yang disimpan di meja bundar itu sebelum membawa satu dari antaranya pergi. Lelaki itu meninggalkan buku yang ia baca sebelumnya, sebuah buku filsafat. Keesokan hari dia datang kembali dan mengambil majalah lain, majalah lama diletakkan di atas meja. Setiap hari dia datang dan semakin ada perubahan positif yang terlihat. Ia semakin rapi dan berbicara sedikit-sedikit. Ternyata dia adalah seorang pengarang. Meski sudah banyak buk...

Umar Kayam - Seribu Kunang-kunang di Manhattan

Ketika itu Jane dan Marno duduk di sofa, bermalas-malasan dengan segelas Scotch dan segelas Martini. Mereka berdebat mengenai bulan yang Jane sebut berwarna ungu, sedangkan Marno tetap melihatnya dengan warna yang biasa, kuning keemasan. Marno pergi ke dapur untuk mengambil es dan merasa kepalanya terasa kurang enak. Sesaatnya ia duduk, Jane bercerita bahwa ia merasa mantan suaminya, Tommy, tengah berada di Alaska. Jane bertanya tentang adat istiadat Alaska kepada Marno, tentang adat menyuguhkan istri pada tamu. Jane bertanya dia tidak ingin Tommy kedinginan akibat suhu Alaska yang sangat dingin. Namun, Marno sangsi bahwa Tommy sedang berada di Alaska sekarang. Marno pergi merokok di dekat jendela dan memandang langit, seketika ia disergap perasaan senyap dan kosong. Jane bercerita tentang sebuah boneka Indian cantik dari Oklahoma City yang dibelikan Tommy untuknya, tetapi Marno sudah mendengar itu beberapa kali. Jane mengajak Marno berbicara mengenai Empire Satate Building yang d...

Balela

Sebuah kebenaran dapat muncul dari balik kamar mandi. Begitu isi sebuah buku yang pernah kubaca. Kali ini kebenaran benar-benar muncul, ia datang bersama sebungkus alat yang kubeli dari apotek. Aku menatap cermin besar yang menggantung dalam kamar mandi. Dari situ, suara mangkuk pecah bersama teriakan dan bantingan pintu menusuk-nusuk gendang telinga. Dari balik bisingnya perang, suara ketukan samar terdengar dari balik pintu. Kusimpan alat tadi dalam saku dan membuka pintu kamar mandi. Adikku berdiri di sana dengan wajah pias. “Aku tak bisa tidur,” bisiknya. Kugendong tubuh kecil yang gemetar itu dan berjalan melewati dapur yang menjadi medan peperangan. Ayah berdiri membelakangi wastafel, sedang ibu terduduk di dekat pencucian. Dapur benar-benar telah menjadi medan perang dengan banyaknya korban keramik dan benda-benda plastik yang bertebaran. Kututup wajah Chasey dengan menekan kepalanya pada pundakku dan pergi dari sana. Kuselimuti gadis kecil itu dan memeluknya dalam s...